Berdakwah dengan Bahasa Isyarat

0
566

Oleh: Indra Rukmana

[Cirebon, 15 Mei 2019] Bahasa isyarat adalah bahasa yang digunakan orang yang memiliki hambatan pendengaran dan bicara, atau munkin kita sering sebut difabel tuli. Bahasa isyarat merupakan bahasa yang mengombinasikan bentuk tangan, orientasi, gerak tangan, lengan, bibir, dan tubuh serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka.

Menurut data dari Kementerian Sosial RI pada tahun 2011, jumlah data penyandang difabel di Indonesia adalah 3,11 persen atau 6,7 juta jiwa dan di antaranya 602.784 jiwa adalah difabel tuli.

Dalam sebuah kunjungannya di panti asuhan Yayasan Beringin Bhakti, Jalan Pangeran Cakrabuana Desa Kepongpong, Kab. Cirebon, tiga orang difabel rungu, Yahya, Bara, dan Syahrudin bersafari ramadan untuk memperkenalkan ilmu agama Islam melalui penggunaan bahasa isyarat.

Menurut Joko (41 tahun) selaku pimpinan rombongan safari ini menuturkan kepada Newsdifabel.com bahwasannya teman-teman difabel tuli ini sangat membutuhkan bekal agama. Sangat miris jika di antara mereka tak ada yang memahami tentang ilmu agama. Ilmu yang disebarkan memang tak sebatas tentang gerak salat, termasuk pemahaman teologis.

Menurut pengalamann ketika bersafari, banyak teman-teman difabel tuli menceritakan bahwa kurangnya kegiatan dakwah tidak ada yang menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

Senada dengan penuturan salah satu penyandang difabel tuli, Abdullah (32) yang juga salah satu anak panti di Yayasan Beringin Bhakti menuturkan kepada Newsdifabel.com, “Betul saya belum pernah menemukan kegiatan ceramah atau khotbah jumat ada yang menerjemahkan menggunakan bahasa isyarat, jadi ketika sedang berlangsung ceramah, saya hanya diam saja, tidur atau mungkin mengobrol dengan teman. Dari kunjungan teman-teman difabel tuli tadi bisa sangat menyenangkan dan tahu banyak ilmu agama islam.

Pada saat yang sama, seorang siswi difabel tuli kelas 2 SMP di SLB B Beringin Bhakti, Sri Rahayu (15) menceritakan kepada Newsdifabel.com bhawa dia bersama 8 sahabat tuli lain yaitu Abdullah, Dayat, Robi, Maksuni, Muhammmad Dian, Bahja, Dhea, dan Syifa, sangat senang dengan acara tersebut. “Ketika saya menonton ceramah di telebisi atau langsung, itu tidak ada orang yang menerjemahkan apa isi ceramah tersebut, bahwa dia dan teman-teman difabel tuli lainnya mungkin ingin mempelajari ilmu agama islam untuk bekal nanti ketika meninggal dunia.”

Abdullah dan Sri pun sepakat bahwasannya ketika ada kegiatan keagamaan baik langsung atau di televisi harus ada penerjemah bahasa isyarat untuk menjelaskan apa isi yang disampaikan oleh ustaz atau ustazah dalam ceramahnya. Meski saya dan teman difabel tuli lainnya tidak bisa mendengar, namun tetap mempunyai hak untuk tahu isi ceramah dengan bahasa isyarat.

Jika untuk belajar komputer mungkin cukup diajarkan dan melihat apa yang diajarkan kepada difabel tuli, begitu juga ketika belajar menjahit, paling mereka tinggal melihat langsung pasti bisa. Berbeda dengan mempelajari ilmu agama, masih jarang orang yang minat membantu mengajarkan agama dengan menggunakan bahasa isyarat.

Joko berharap bahwa ke depan banyak ustaz atau pemuka agama yang mau belajar bahasa isyarat dan mau mengajarkan agama kepada teman-teman difabel. Munkin kalau difabel netra jadi ustadz atau hafiz Alquran itu biasa, namun alangkah luar biasanya jika difabel tuli juga menjadi hafiz Alquran untuk berdakwah di kalangan difabel tuli.