Benarkah Difabel Rentan Terpapar Corona?

0
572

Penulis: Nensi Nur

Newsdifabel.com — Telah lebih dari setahun wabah corona melanda seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia, negeri kita tercinta. Membuat hampir seluruh sendi keberlangsungan umat manusia seakan lumpuh total. Berbagai sektor dari mulai pendidikan, ekonomi dan sosial seperti tengah meregang nyawa di masa pandemi ini. dampaknya, jelas tak hanya terasa oleh kaum mayoritas saja. Karena segelintir orang dari kaum difabel pun merasakan dampak yang luar biasa. Mata penceharian mereka yang terbatas hanya dalam ruang lingkup bidang tertentu turut mengalami jalan buntu. Namun ternyata, bukan hanya persoalan demikian yang mencuat dari balik kacamata difabel. Kita garis bawahi salah satu di antaranya adalah penyandang difabel netra.

Banyak orang beranggapan, bertemu dengan para makhluk bertongkat putih ini, seolah melihat corona dengan mata telanjang. Apa sebabnya? Mungkin karena ini berkaitan dengan protokol kesehatan yang selalu digaungkan pemerintah yakni poin jaga jarak. Ya, jaga jarak atau physical distancing, amat mustahil selalu bisa diterapkan oleh para difabel netra. Terutama saat tengah berkeliaran di tempat-tempat umum seperti perkantoran, pasar, halte, stasiun, tempat ibadah, dan lain-lain.

Pada situasi tertentu, memang mereka terpaksa harus bersentuhan dengan orang lain seperti saat digandeng petugas menuju bis atau kereta, digandeng orang saat menyeberangi jalan raya, atau saat berada pada situasi sulit seperti terjatuh ke dalam got, dimana orang lain perlu menyentuh bagian tubuh untuk bisa keluar dari musibah tersebut.

Terdengar dramatis sekali. Sayangnya itu memang nyata dan terasa.

Seorang difabel netra, sebut saja namanya Kumbang. Selama lebih dari setahun menjalani work from home tanpa pernah menginjakkan kaki ke tempatnya bekerja di daerah Jakarta Pusat. Sementara, karyawan lain dikenakan jadwal shift sehari WFH dan sehari WFO. Ketika dia mencoba mengonfirmasi pada atasannya, dengan jelas mereka mengatakan bahwa, karyawan dengan difabel netra seperti dirinya rentan dengan virus corona. Itu masuk akal, sebab pada praktiknya, para difabel netra yang bekerja dengan orang nondifabel, biasanya sering berinteraksi dengan sentuhan. Pada saat berangkat ke masjid, toilet, ruang rapat, kantin bahkan saat bertemu di tengah perjalanan, mereka akan dibantu dengan digandeng oleh teman-teman nondifabel. Itu berarti ada dua kemungkinan besar berkaitan dengan penularan virus corona. Kalau dia tidak berpotensi menularkan, ya berpotensi tertular.

Belum lagi saat bertemu dengan situasi crowded seperti di halte. Para difabel netra tentu akan menggunakan tangan untuk meraba ke sana ke mari saat mencari pegangan di tempat itu. Dan sudah tentu semakin banyak benda yang tersentuh, semakin berpotensi untuk bertemu Virus mematikan tersebut. Jangankan para difabel netra, orang non difabel saja belum tentu dapat mematuhi protokol kesehatan dengan sempurna. Tapi setidaknya, mereka bisa meminimalisir hal itu dengan indera yang mereka punya.

Ada beberapa solusi yang bisa teman-teman difabel netra lakukan untuk bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik, sehingga meminimalisir anggapan atau kekhawatiran tentang penularan virus corona. Dalam sebuah acara webinar yang pernah dilaksanakan oleh yayasan pelita monas indonesia, dan dihadiri oleh puluhan penyandang difabel netra, para narasumber yang terdiri dari dokter serta praktisi kesehatan itu menerangkan bahwa, penyebaran virus bisa dihindari asal para difabel netra dapat menerapkan protokol kesehatan dengan benar. Mereka memberikan beberapa tips dan trik bagaimana para difabel netra menjaga diri saat berada di tempat keramaian.

1. Sebelum berangkat, pastikan membawa barang-barang yang biasa dipakai untuk memerangi Virus. Seperti tissue basah, hand sanitizer dan sabun pencuci tangan.

2. Mengenakan pakaian tertutup seperti jaket, kemeja atau kaus lengan panjang. Jika terpaksa orang lain menyentuh atau menggandeng, mereka tidak akan menyentuh langsung pada kulit.

3. Pastikan kacamata, masker, dan sarung tangan terpasang dengan baik. Pemakaian sarung tangan dapat pula meminimalisir penularan virus secara langsung. Karena tangan kita yang terbungkus saat menyentuh benda-benda atau kulit orang lain, mengakibatkan virus yang tersentuh akan menempel dulu di sarung tangan.

4. Setelah kita duduk di dalam kendaraan, segera semprotkan hand sanitizer ke sarung tangan atau daerah lengan baju. Lebih baik jika kita mengganti sarung tangan dengan yang baru. Bukankah sekarang sudah ada produk sarung tangan sekali pakai? Semakin sering diganti, akan semakin baik tentunya.

5. Patuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah yaitu: Menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan.

Jadi, teman-teman difabel netra khususnya, tetap bersikap tenang namun selalu waspada. Karena virus itu nyatanya ada, dan berbahaya. Mulailah untuk meningkatkan pola hidup yang bersih dan sehat, agar negeri kita cepat terbebas dari wabah mematikan ini.