Belajar dari Pengalaman

0
271
Foto: www.thenextstepdrdean.com

Oleh: Dera Sofiarani

[Pekalongan, 24 September 2018] Mungkin di antara kita semua pernah merasakan hal yang paling menyedihkan dalam hidup. Kesedihan biasa dianggap sebagai kepahitan. Sepahit-pahitnya tentu memiliki sedikit rasa manis, jika kita bisa membalikkan situasi. Sedikit rasa manis itulah yang bisa menjadi setitik cahaya dalam kegelapan. Bukankah setiap cahaya selalu dapat menghadirkan bayang-bayang? Hidup mengajarkan bahwa, benturan adalah titik tolak untuk melompat ke depan, apanila kita mampu melewatinya.  Entahlah, saya sulit mendeskripsikan perasaan saat menceritakan sebuah kisah hidup yang dialami oleh seorang teman.

Aku dan temanku adalah penyandang disabilitas. Aku seorang low vision (disabilitas netra yang masih memiliki sisa pengelihatan), sedangkan temanku seorang disabilitas rungu (hard of hearing, atau masih memiliki sisa pendengaran) sejak lahir. Untuk mengoptimalkan kemampuan mendengarnya, temanku menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Dia masih dapat berbicara, meski menurut kebanyakan orang, cara berbicaranya kurang jelas. Akan tetapi, jika kita mendengarkanya lebih seksama, kata-katanya cukup jelas dan bisa dimengerti.

Sudah lebih dari 7 tahun aku tidak bertemu temanku itu. Namun, momen mudik ke kampung halaman tahun ini menjadi jembatan pertemuan kita. Tanpa diduga, tiba-tiba saja dia mengirim pesan melalui Facebook. Dan kami saling berbalas pesan, hingga akhirnya dia mengajak pergi ke sebuah taman yang ada di kota kelahiranku itu.

Setelah kami sampai di taman kota, dia bercerita sangat panjang lebar. Temanku bercerita bahwa, dia bercita-cita ingin menjadi pebisnis via daring, dan ingin menjadi seorang disainer. Namun, cita-citanya mungkin hanya akan menjadi mimpi saja, karena orang tuanya tidak memberikan kepercayaan dan dukungan. Orang tuanya selalu menganggap bahwa, dia adalah anak penghayal. Saat dia meminta modal dengan jumlah yang tidak banyak, orang tuanya tidak memberikannya.  Dia berkata, “Di rumah itu urusannya udah masing-masing. aku malahan jarang di rumah. Aku pusing, selalu ‘enggak dikasih kepercayaan, selalu dibilangin aku bodoh, apalagi ‘enggak bisa apa-apa, karena aku ‘enggak bisa dengar dan ‘enggak bisa bicara jelas,” Dia menambahkan, “Tapi, kan, aku hidup dan punya perasaan juga.” imbuhnya. Aku berkata dalam hati, “Mungkinkah ini terjadi, karena pemikiran yang masih ada di kota-kota kecil?”

Dari percakapan panjang antara aku dan temanku, aku mengira bahwa, situasi di dalam lingkup keluarga temanku itu memang terlihat tidak menguntungkan baginya. Entah mengapa bisa begitu? Namun, dalam pemikiranku, fakta tersebut menjadi lecutan bagi penyandang disabilitas untuk terus berjuang, agar bisa mengoptimalkan kemampuannya. Selain itu, terus memberikan edukasi kepada masyarakat luas untuk selalu menyamakan hak dan kewajiban serta tidak bersikap diskriminatif terhadap penyandang disabilitas.

Pada akhirnya, dari pengalaman hidup temanku itu, ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama, untuk teman-teman disabillitas, bersyukurlah kepada Tuhan karena diberi orang tua yang selalu menyayangi dengan setulus hati, dan selalu memberikan dukungan serta doa restunya. Kedua, berilah ruang gerak kepada penyandang disabilitas untuk berkarya sesuai dengan kemampuannya. Bukakan kesempatan yang sama dan adil dalam pengembangan bakat serta potensi yang dimiliki. Jangan hancurkan impian-impiannya hanya karena perbedaan fungsi fisik.

Hal ini senada dengan artikel yang dimuat dalam Newsdifabel berjudul Mimpi Zainal bahwa, tugas mengampanyekan kesamaan hak dan kewajiban juga menjadi tanggung jawab disabilitas itu sendiri. Sejauh mana dirinya berkeinginan membuka mata dunia untuk melihatnya sebagai seorang individu yang berarti, dan memiliki peran sama dalam tatanan kehidupan.