Batinnya Berkecamuk, Ferdo Soehartono Akhirnya Menjadi ASN

0
603

Penulis: Delia

Newsdifabel.com — Sudah sewajarnya seorang musisi menghibur banyak orang dengan keahliannya. Menjadi seorang penghibur tentu menghabiskan banyak waktu di malam hari. Waktu malam sangat cocok diisi dengan pertunjukan musik yang tak jarang menghipnotis pendengarnya, terbawa dalam ketukan nada yang dimainkan. Keahlian bermusik ini hampir dikuasai setiap difabel netra, itu semua karena indra pendengaran yang peka terhadap suara sehingga lebih fokus dan mampu menghasilkan vokal atau nada-nada tepat untuk yang mendengarnya.

Ferdo Soehartono, seorang difabel netra, memiliki kemampuan bermusik yang sangat baik sehingga mampu membawanya menjadi seorang pegawai negeri sipil di Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sebagai seorang pekerja yang memulai karirnya di lembaga pemerintahan, tepatnya di sebuah lembaga sosial bernama panti sosial Tresna Werdha Budi Dharma (PSTW), Bekasi sejak 1 Januari 2004. Tentu saja Ferdo merintisnya sebagai pegawai honorer.

Bapak dua anak ini memulai kisahnya ketika bagaimana dulu sebelum menjadi Aparatur Sipil Negara, Ferdo memiliki banyak pengalaman bekerja khususnya di dunia hiburan dan perpijatan.

“Selepas SMA, saya sempat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Saat itu saya sempat bekerja sebagai pemain organ tunggal di sebuah wedding organizer, juga di orkes dangdut untuk mengisi acara di sebuah kafe atau kedai kopi. Selain itu, Ferdo juga aktif sebagai seorang terapis pijat.” ungkapnya.

Ferdo melanjutkan, “Dari pekerjaan ini bisa dibilang penghasilan saya sangat cukup, sampai akhirnya terbersit dalam benak, saya merasa pekerjaan saya ini adalah pekerjaan yang tidak normal layaknya orang pada umumnya, karena aktivitasnya banyak dilakukan di malam hari. Jika dibandingkan dengan penghasilan seorang PNS pada masa itu mungkin pendapatan saya bekerja di dunia hiburan jauh lebih besar. Tapi saya merasa dari pekerjaan ini saya tidak mendapat kebahagiaan. Pada waktu itu dunia musik dan jasa pijat yang saya kerjakan lebih banyak malam hari. Karena hal inilah tak jarang lingkungan pekerjaan sangat dekat dengan minuman keras. Meskipun saya bekerja di sana tapi saya bersyukur tidak sampai terbuai dan terjebak menjadi penikmat dunia malam.”

Aktivitas ini akhirnya mendobrak hati kecil Ferdo untuk berpikir kebih jauh di kehidupan masa depan. Hatinya berkecamuk bimbang. Dengan pekerjaan yang hasilnya bisa mencukupi kebutuhannya itu, Ferdo bertaruh dengan masa depannya. Syahdan, Ferdo memilih berhenti dari pekerjaan itu meski dengan penghasilan yang berkurang banyak.

Sampai akhirnya tahun 2004, PSTW Budi Dharma Bekasi membuka program pelayanan untuk orang dengan lanjut usia dengan nama daycare services. Dalam program ini terdapat musik sebagai media pelayanan yang akhirnya membawa Ferdo menjadi salah satu instrukturnya. “Saya awal gaji sebagai honorer pada saat itu sekitar Rp290.000 per bulan, dibandingkan dengan perolehan dari pekerjaan sebelumnya tentu saja sangat jauh. Tapi di situ saya bahagia, dengan mendapat banyak teman yang betul-betul bisa menerima saya tanpa memandang perbedaan meskipun harus banyak bergaul dan mendampingi lansia.” kata Ferdo.

Dengan musik yang ceria dan pembawaan yang menghibur ternyata bisa memberikan sub terapi pada setiap orang yang mendengarnya. Menurut Ferdo, salah satu metode life review terapi untuk para lansia ini adalah terapi kenangan melalui art therapy atau terapi seni.

Di akhir tahun 2005, Ferdo mendapat informasi dari atasannya untuk mengumpulkan berkas yang nantinya akan diajukan sebagai Aparatur Sipil Negara. Di sini Ferdo sempat tidak percaya diri dan merasa tidak pantas bahkan sampai kabur ke rumahnya karena menghindar untuk mengumpulkan berkas. Ferdo merasa tidak pantas untuk diajukan sebagai ASN karena masih banyak teman-temannya yang jauh lebih lama bekerja sebagai pegawai honorer. Selain itu juga Ferdo merasa sudah cukup bahagia dengan apa yang dia dapat saat itu.

Mungkin relevan dengan petuah sang bijak bestari bahwa manusia tidak bisa lari dari takdirnya. Kendati Ferdo menghindar kemanapun, jika memang rezeki itu sudah seharusnya ia miliki serta berkat doa yang dipanjatkan selama ini, dengan berusaha pasti akan digenggam jua. Setelah Ferdo menghindari seleksi berkas dan kabur ke rumahnya, dia mendapat panggilan telepon dari salah satu temannya yang berkata bahwa jika dia tidak mau mengumpulkan berkasnya, maka ke-13 temannya yang lain, akan dilakukan pembatalan pengajuan serta masuk daftar hitam. Akhirnya mau tidak mau Ferdo ikut mengumpulkan berkasnya. Setelah melewati tes CPNS tahun 2016, akhirnya Ferdo resmi diangkat menjadi ASN dengan nilai terbaik pada angkatan pertama.

Banyak hal yang sudah Ferdo lakukan selama bekerja di PSTW Budi dharma, sebagai staf layanan advokasi sosial. Mulai dari menjadi pembimbing instruktur musik, pengumpul atau pengelola berkas, membantu tim medis dalam menangani jenazah lansia sampai membentuk tim qasidah lansia yang menarik perhatian dan apresiasi banyak orang dan masih banyak lagi aktivitas lain.

Setelah lama bekerja di PSTW Budi Dharma akhirnya Ferdo dipindahkan ke PSBN Tan Miyat Bekasi sejak tahun 2016 hingga sekarang. Satu hal kritis yang Ferdo alami, bahwasanya seperti orang yang bekerja jauh di rantau, keluar dari lingkungan kampung halaman yang lebih paham dan mengenal kita akan cenderung merasa lebih dihargai dan diberdayakan secara maksimal di lingkungan baru yang sama sekali belum mengenal kita. Menurut Ferdo, ritme pekerjaan di lingkungan dengan lembaga khusus difabel terbilang biasa saja untuknya, tak jarang bahkan perlakuan untuk anak didik penerima manfaat disamakan untuknya yang seorang pegawai atau instruktur di sana.

Sebagai seorang pegawai difabel di sebuah lembaga pemerintahan, Ferdo berpesan agar temen-temen difabel yang menjadi ASN bisa membuka diri kepada teman-teman pegawai nondifabel. Jangan sampai membentuk kelompok atau kubu yang mengkhususkan golongan. Begitu pula sebaliknya, untuk pegawai nondifabel bisa lebih merangkul rekan pegawai yang difabel karena status kepegawaian tidak menunjukkan perbedaan antara difabel maupun nondifabel. Dengan demikian akan menghindari adanya diskriminasi sosial terhadap difabel pada internal kantor yang sering terjadi di masyarakat.