Barisan Disabilitas Netra Hadang Menteri Sosial

0
208

Oleh: Latipah, Bayu Pratama

[Bandung, 14 Februari 2919] Panti Sosial Bina Netra (PSBN) yang telah berubah menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna, Jl. Pajajaran No. 52 Bandung menjadi saksi aksi damai yang dilakukan oleh puluhan penerima manfaat, siswa-siswi, dan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Akademisi Luar Biasa, Rabu, 13 Februari kemarin. Dalam aksinya, mereka menuntut Menteri Sosial RI, Agus Gumiwang Kartasasmita mencabut Peraturan Menteri Sosial Nomor 18 tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.

“Kita menemukan adanya siswa-siswa yang sudah mengikuti lama sekali. Jadi seolah-olah program ini menjadi hak bagi dia. Kita juga harus sadar bahwa, selain mereka ada juga penyandang disabilitas rungu, netra, dan lain sebagainya yang ngantri yang harus masuk untuk mendapatkan program dari pemerintah.” tutur Agus Gumiwang, saat ditemui oleh salah-satu kontributor News Difabel, di kawasan BRSPDSN Wyata Guna dan dimintai tanggapan perihal aksi yang dilakukan oleh disabilitas netra.

Peserta aksi memandang bahwa, Wyata Guna yang tadinya menerima penyandang disabilitas netra ratusan orang sedangkan saat ini dibatasi menjadi 50 sampai 60 orang, dan waktu pembinaan dikurangi menjadi 6 bulan saja. Itu merugikan.

“Kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan! Waktu 5 bulan lagi itu singkat, sedangkan ada teman-teman yang ingin menghadapi ujian nasional dengan tenang.” ujar Aris, koordinator aksi dalam orasinya.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 itu tidak usai begitu saja. Merasa aksinya tidak ditanggapi, para peserta aksi bergerak menuju gerbang BRSPDSN. Di sana mereka melakukan blokade gerbang berharap meteri mau menemui mereka.

“Ada yang bilang, menteri sudah ke luar, ada yang angkat gerbang juga untuk mengelabuhi kami.” ujar salah-satu peserta aksi.

Saat ditemui setelah aksi usai, Aris menuturkan bahwa, hari ini Menteri ada di sekitar kami, namun tidak mau sekedar berjabat tangan dan pergi diam-diam.

“Itu yang kami sesalkan, sampai sedih sesedih-sedihnya,” Lanjutnya, Aris.