Bapak Braile Indonesia

0
253

Oleh: Latipah

Seorang tunanetra dan huruf braille ibarat siang dan mataharinya, malam dan bintang-bintangnya. Keberadaan huruf braille dapat membawa terang di gelapnya dunia tunanetra, membuka jendela dunia dengan cara membaca.

Di Indonesia sendiri, jika berbicara huruf braille, maka harus juga berbicara mengenai Pak Harto. Pak Harto dikenal oleh masyarakat tunanetra dan pemerhati masalah-masalah ketunanetraan di Indonesia.

Sebagai Bapak Braille Indonesia karena telah merintis pembakuan sistem tulisan braille Indonesia dan telah mengembangkan sistem tulisan singkat (tusing) braille Indonesia yang dibakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1968, di samping mengajarkan braille kepada para calon guru dan guru-guru PLB dari tahun ke tahun.

Mari kita mengenali sosok Pak Harto.

Pak Harto adalah seorang tunanetra. Ia menjadi tunanetra pada usia 20 tahun akibat terkena pecahan bom. Ketunanetraannya tergolong low vision. Ia masih dapat melihat bayangan orang tetapi tidak dapat mengenali wajahnya ataupun membedakan jenis kelaminnya. Ia juga dapat membedakan warna-warna kontras, dapat mengeja huruf berukuran besar (seukuran judul koran) dan masih cukup fungsional untuk kegiatan orientasi dan mobilitas.

Pak Harto merupakan pensiunan guru Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Negeri Bandung dengan masa kerja 1955- 1986. Buku Pedoman Tulisan Braille Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1968) adalah buah karyanya. Segudang kegiatan Pak Harto semasa hidupnya pernah menjabat ketua IkatanTunanetra Indonesia (Ikatindo) sejak 1968, anggota DPP Pertuni (1994-2000), dosen luar biasa IKIP Bandung (1984-1996), bekerja sebagai korektor braille pada percetakan Braille Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG) hingga 1996, penatar guru SLB tingkat nasional hingga 2002, dan sebagai seorang entrepreneur peralatan tunanetra. Pendidikan terakhirnya adalah S1 pendidikan umum Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (sekarang UPI).

Ia lahir di Surabaya pada tahun 1926. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik (setingkat SMP), pada masa revolusi kemerdekaan, dirinya bergabung dengan Tentara Pelajar, dan kemudian menjadi tentara AURI. Pada saat bertugas di daerah Malang (pada usia 20 tahun), matanya terkena pecahan bom yang mengakibatkan ketunanetraannya, dan dipensiunkan dari dinas ketentaraan pada tahun 1950 dalam pangkat Letnan Dua. Kemudian, pada tahun yang sama, beliau masuk lembaga pendidikan bagi tunanetra di Bandung, Rumah Buta (sekarang Wyata Guna). Di situlah beliau mendapat pelatihan membaca dan menulis braille sebelum melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) khusus bagi tunanetra, program pendidikan guru empat tahun setingkat SMP.

Ketika teman-teman sekelasnya naik ke kelas III, Pak Harto loncat ke kelas IV di SGB umum, belajar bersama-sama dengan siswa-siswa non disabilitas (inklusi). Setelah tamat SGB, ia diterima di SGA untuk melanjutkan pendidikannya setelah berhasil meyakinkan para pejabat terkait dan guru-guru di sekolah itu bahwa sebagai seorang tunanetra dirinya mampu belajar di sekolah umum. Ia terbukti menjadi satu-satunya siswa seangkatannya yang berhasil lulus dalam waktu dua tahun (dari program yang seharusnya tiga tahun), melalui program extrane.

Lulus dari SGA pada tahun 1955, Pak Harto diangkat sebagai guru di Sekolah Rakyat Istimewa (sekarang Sekolah Luar Biasa) untuk anak-anak tunanetra di Temanggung, Jawa Tengah. Sebelum berangkat ke Temanggung, ia menikah dengan Sugiarti, anak seorang pegawai Rumah Buta yang sudah dikenalnya sejak masuk Rumah Buta.

Setahun setelah bekerja di Temanggung, Pak Harto mendapat tugas dari Jawatan Pendidikan Khusus untuk menyusun pedoman tulisan Braille Indonesia. Untuk mempermudah pelaksanaan tugas itu, pak Harto meminta di pindahkan ke Bandung, dan ditempatkan sebagai guru SGPLB (yang ketika itu masih setingkat SGA).

Edisi pertama dari karyanya itu diterbitkan oleh Departemen Pendidikandan Kebudayaan pada tahun 1968 .Di dalamnya termasuk system tulisan singkat Braille Indonesia (yang dikenal dengan akronim“tusing”). Sementara itu, Pak Harto juga bekerja keras guna mewujudkan ambisinya untuk menjadi sarjana. Ia kuliah di jurusan pendidikan umum, IKIP Bandung. Dan lulus sarjana muda pada tahun 1967, lalu lulus sarjana dua tahun kemudian.

Di samping pekerjaan tetapnya sebagai tenaga pengajar di SGPLB, Pak Harto aktif dalam berbagai kegiatan di beberapa lembaga dan organisasi ketunanetraan sebagaimana disebutkan di atas. Pak Harto pensiun sebagai pegawai negeri pada tahun 1986 tetapi terus menjalankan kehidupan yang aktif. Ia menetap di Bandung bersama istrinya yang juga pensiunan pegawai negeri. Keempat anaknya tamat dari perguruan tinggi yang prestisius (ITB dan IPB), berhasil dalam karirnya, dan masing-masing memberi dua orang cucu.

Drs. H. Suharto meninggal pada 17 Maret 2018 pada usia 92 tahun. Jasa-jasanya akan senantiasa terukir dalam ingatan setiap insan tunanetra dan pemerhati pendidikan untuk tunanetra.