Banting Tulangnya Difabel Netra Sebelum Ada Layar Sentuh

0
408

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com — Di daerah perkotaan, pemandangan seorang difabel netra dalam memainkan telepon pintar sudah bukan hal yang tabu lagi bagi sebagian masyarakat. Kemajuan teknologi membuat telepon pintar mampu menjadi robot pendamping untuk difabel netra. Berkat adanya pembaca layar membuat hampir semua aplikasi di dalamnya dapat dioperasikan dengan baik. Menjadi pertanyaan besar bagaimana seorang difabel netra bisa menggunakan telepon genggam sebelum adanya pembaca layar.

Dalam ensiklopedia bebas tentang perkembangan ponsel yang dikutip di Wikipedia Indonesia, terdapat lima generasi perkembangan, yang dimulai dari penemuan ponsel seberat 800 gram oleh Martin Cooper dari Motorola Corp tahun 1973 yang disebut generasi pertama.

Aplikasi pembaca layar pertama yang dikenal difabel netra di Indonesia bernama Talks. Dalam perkembangannya, aplikasi Talks dapat beroperasi dan hanya mendukung sistem operasi Symbian saja, sedangkan sistem operasi Symbian dipakai pada ponsel generasi ke-3 sejak 2007. Meskipun saat itu sistem operasi lain seperti Android dan iOS sudah ada, tapi belum bisa mengalahkan jumlah pemakaian ponsel dengan operasi Symbian terbanyak.

Sistem operasi Symbian sendiri saat itu banyak dipakai oleh ponsel Nokia sebelum era Windows Phone, juga ponsel-ponsel Samsung, Motorola, dan Sony Ericsson model lawas.

Sebelum bisa mengakses penggunaan pembaca layar, ada beberapa metode khusus sehingga seorang difabel netra tetap bisa menggunakan telepon genggam tanpa bantuan orang lain yang bisa melihat. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan bunyi tombol yang bisa diaktifkan di menu perangkat pada ponsel generasi kedua. Suara tombol inilah yang mereka dengar dan menjadi patokan menggunakan ponsel saat itu.

Seorang difabel netra asal Bekasi bernama Udin (45) berhasil kami korek pengalamannya yang sudah lama mengikuti alur perkembangan penggunaan ponsel secara daring di kediamannya. Berikut ini adalah penjelasan Udin bagaimana dia dapat beradaptasi menggunakan ponsel yang tidak menggunakan pembaca layar.

“Pertama-tama kita harus mengenal setiap tombol yang tersedia pada ponsel yang kita gunakan. Setelah mengenal tombol yang tersedia, barulah kita dapat menerka bagaimana cara mengangkat telepon, menutup telepon, dan menelepon. Tentu saja setelah belajar dari orang yang bisa melihat untuk memberitahu dan menghafal menu apa saja yang ada di ponsel itu.” ungkap Udin.

Cara menghafalnya adalah jika ingin mengetik sebuah pesan singkat, kamu harus tahu, setelah menekan tombol menu, berapa kali kita menekan panah bawah atau panah atas untuk menemukan fitur aplikasi pesan, setelah yakin kursor ada di menu pesan, kamu tinggal menekan tombol “pilih” untuk membuka menu pesan.

Sedangkan untuk nomor yang akan kita kirimi pesan, biasanya kita harus menghafal nomor telepon tersebut. Sebelum ada papan ketik QWERTY, kamu harus menghafal berapa kali menekan tombol angka 2 untuk menghasilkan huruf C, berapa kali menekan tombol angka 1 untuk menghasilkan tanda baca koma.

Intinya kita harus memperkuat daya ingat otak agar bisa menghafal apapun yang ingin kita lakukan di ponsel yang kita gunakan sebelum ada aplikasi pembaca layar..

“Sedangkan beberapa kesulitan dari tidak adanya pembaca layar selain perlunya bantuan orang lain untuk melihat, ada kesulitan lain yang juga cukup merepotkan.” tutur Udin.

“Jika ada pesan masuk, kita kesulitan untuk membaca. Jika bertukar nomor telepon dengan teman atau siapapun, kita harus menghafal nomor tersebut, jika disimpan di kontak telepon, kita harus benar-benar menghafal nama apa yang kita berikan untuk nama kontak untuk nomor itu. Jika ada yang menelpon, kita tidak tahu siapa yang melakukan panggilan tersebut, sebelum kita mengangkat panggilan masuk itu dan tentu saja kita juga tidak bisa tahu siapa yang menelepon sebelum kita mengangkatnya.”

“Jika ada pesan masuk, sudah pasti kita penasaran siapa yang mengirim pesan tersebut. Mau tidak mau kita harus mencari orang awas untuk membacakan pesan yang masuk pada ponsel, tak jarang pesan yang masuk adalah pesan pribadi yang seharusnya orang lain nggak boleh tahu, jadi tahu. Sering juga orang yang membacakan menertawakan isi pesan itu sebelum disampaikan yang membuat malu dan penasaran. Belum lagi kalau kita salah sambung, berhubung banyaknya nomor yang harus dihafalkan, membuat kita sedikit lupa satu atau dua digit nomor telepon. Tapi dulu banyak, loh, yang modus salah sambung, akhirnya sering komunikasi dan berbagi cerita bahkan ada yang sampai jadian padahal belum saling kenal. Karena dulu banyak layanan operator yang memberi gratis panggilan telepon sehingga membuat semuanya larut dalam hubungan jarak jauh dengan orang yang tidak dikenal. Itu semua disebabkan oleh layanan yang digunakan tak berbayar dan juga jaringan telepon yang dipakai adalah sesama operator.” lajut Udin antusias berkisah.

Talks adalah aplikasi pembaca layar dengan fungsi membaca semua tulisan yang sedang dipilih dan muncul sehingga dapat memandu seorang difabel netra menekan dan memilih perintah di layar telepon genggam mereka sehingga dapat dioperasikan hanya dengan mendengarnya saja. Dengan aplikasi ini, seorang difabel netra bisa menyimpan nomor telepon, berkirim SMS, mengetahui siapa yang melakukan panggilan pada ponsel, dan tidak perlu menghafal nomor lagi karena sudah bisa membaca kontak yang disimpan pada ponsel.

Aplikasi Talks benar-benar bisa membacakan semua tulisan yang ada di perangkat seluler. Kita bisa berselancar di internet dan serta sosial media seperti WhatsApp, Facebook, dan Twitter tanpa sedikitpun tulisan yang terlewatkan. Setelah itu, keluarlah pembaca layar yang bisa digunakan di ponsel Android yang dikenal dengan nama Talkback. Penggunaannya memang lebih sulit daripada aplikasi Talks pada sistem operasi Symbian. Bagaimana tidak? Kebanyakan ponsel dengan sistem operasi Symbian menyediakan papan tik non layar sentuh yang bisa kita raba gesturnya, sedangkan ponsel Android, kebanyaakan menggunakan teknologi layar sentuh dimana tampilannya langsung di layar.

Berbeda dengan aplikasi Talks yang ada pada sistem operasi Symbian, dalam melakukan perintahnya hanya satu ketukan, sedangkan pada sisttem operasi Android, kita perlu menggeser untuk mencari menu dan mengetuk dua kali untuk memilih menu. Sebelum mempelajari dan memahami ponsel Android, seorang difabel netra membutuhkan proses yang cukup rumit dan kesabaran yang lebih karena terbiasa dengan ponsel Symbian. Tapi, setelah bisa menguasai ponsel Android, mereka lebih memilih menggunakannya daripada ponsel Symbian, karena ponsel Android jauh lebih canggih.

Merujuk pada kemampuan teknologi membaca ikon, tulisan, bahkan gambar, tentu saja aplikasi Talks pada sistem operasi Symbian kalah jauh dengan aplikasi TalkBack pada sistem operasi Android atau Voice Over pada sistem operasi iOS. Jika aplikasi Talks belum bisa mendeskripsikan gambar yang telah diposting di media sosial, aplikasi TalkBack, setelah diperbaharui, bisa mendeskripsikan foto yang dibagikan di media sosial.

Diharapkan ke depan, aplikasi ini sanggup membantu penggunaan aplikasi fotografi dan mendeskripsikan apa yang dihasilkan dari tangkapan kamera dan gambar yang ada pada galeri ponsel. Kemudian sistem operasi Symbian hanya memberikan sistem pembaca layar yang memiliki beberapa jenis suara yang dapat diubah dan diganti-ganti yaitu Eloquent dan Damayanti. Yang membedakan kedua suara ini hanyalah dari pengucapan aksen bahasanya saja, dimana Eloquent menggunakan aksen bahasa Inggris sedangkan Damayanti menggunakan aksen bahasa Indonesia yang tentu saja lebih mudah dimengerti.