Band Difabel di Taman Lalu Lintas

1
291
Foto: Lulu Ridwan

Oleh: Latipah

[Bandung, 17 September 2018] Banyak cara dilakukan untuk mengisi liburan. Salah satunya mengajak seluruh anggota keluarga mengunjungi tempat-tempat wisata. Arena taman bermain anak-anak, misalnya. Berlokasi di tengah kota, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution masih menjadi primadona destinasi wisata warga kota Bandung dan sekitarnya. Destinasi wisata ini berupa taman bermain bagi anak-anak dan dapat dijadikan tempat berkumpul menghabiskan libur bersama dengan seluruh keluarga, sahabat, dan orang-orang tercinta. Taman bermain yang beralamat di Jalan Belitung No. 1, Merdeka, Sumur Bandung, Kota Bandung, itu sangat digandrungi oleh warga khususnya di hari libur. Dengan tiket masuk seharga Rp7.000 saja, pengunjung dapat bermain sekaligus mengedukasi buah hatinya mengenai rambu-rambu lalu lintas.

Namun, tampak ada sesuatu yang berbeda di hari ketika saya liburan. Pengunjung dihibur langsung oleh band yang semua personilnya difabel netra. Saat diwawancari, Pjs. Administratur Taman Lalu Lintas, Hadi Purwanto, mengatakan bahwa, pihaknya mengundang band dengan personil disabilitas netra karena permainan musik mereka bagus dan dapat membuat pengunjung antusias. “Sebenarnya kerjasama dengan mereka sangat sudah lama. Lebih dari 10 tahun dari sebelum saya tugas di sini.” tambahnya. Dirinya juga mengatakan bahwa, kadang ada pengunjung yang minta nomor kontak mereka. Saya berharap mereka di sini selain menghibur pengunjung, dapat sekaligus promosi, dan yang pasti, mengenalkan kepada masyarakat bahwa difabel terampil bermusik.

Saat ditemui di atas panggung, Wigia (difabel netra), salah seorang dari dua vokalis Kongkrit Band, begitu mereka menamai bandnya mengatakan, “Saya senang dapat menghibur masyarakat di Taman Lalu Lintas. Soalnya, kalau saya lagi bete, terus nyanyi di sini, bete saya bisa ilang. Jadi, di sini saya menghibur dan terhibur.”

Mia, sang vokalis satunya lagi juga mengatakan hal yang sama bahwa, dirinya tidak hanya menghibur tapi juga terhibur, “Karena senang, apalagi ketika ada pengunjung yang ikut bernyanyi.” Yudi Winarmoko (basis) bercerita bahwa, memang benar mereka sudah lama menghibur para pengunjung Taman Lalu Lintas. Bahkan, sebelum mereka, ada band difabel netra yang lain telah menghibur. Jadi, mereka meneruskan kerjasama band difabel netra terdahulu. Mas Moko, begitu dirinya biasa disapa menjelaskan, “Tidak ada persiapan khusus untuk menghibur masyarakat yang mengunjungi Taman Lalu Lintas, karena sudah biasa tampil di sini. Persiapannya paling masing-masing personil mempelajari lagu-lagu yang sedang booming di radio, televisi, dan semacamnya.” Adapun lagu-lagu yang mereka biasa bawakan untuk menghibur masyarakat pengunjung Taman Lalu Lintas mulai dari dangdut, pop, hingga lagu-lagu manca negara. Tak jarang para pengunjung ikut naik panggung dan menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. Ada juga yang hanya sekedar ikut berjoget.

Salah seorang pengunjung, Eti, merasa sangat terhibur. “Senang mereka menghibur. Suara penyanyinya bagus-bagus. Nanti kalau ada hajatan, saya mau undang salah satu penyanyinya. Saya suka suaranya. Itu, yang nyanyi dangdut terus.” ujarnya. “Biarin anak-anak main, saya mah di sini saja, nonton band. Rame.” tambahnya di sela-sela obrolan antar anggota keluarga yang datang bersamanya. Jeni (20) yang datang bersama Bu Eti mengatakan bahwa dirinya merasa kagum dengan permainan musik Kongkrit Band.

Berikut ini adalah para personil Kongkrit Band: Wigia dan Mia sebagai vokalis, Yudi Winarmoko a.k.a. Moko sebagai basis, Rido penggebuk drum, Yudi Fardiat pemegang keyboard, dan Edi Sundara pemain gendang.

Grup musik difabel ini (Kongkrit Band) memang tampil dwi mingguan secara reguler di Taman Lalu Lintas, Kota Bandung. Keberadaan musisi difabel sangat penting diapresiasi sebab mereka minim support sedangkan kapasitas mereka jika terus ditingkatkan bisa memperkaya seni musik bangsa ini.

1 COMMENT