Bambang Basuki Terapis Akupunktur Difabel Netra

0
131

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 19 September 2020] Terapi metode akupuntur sedikit berbeda dengan terapis lainnya seperti massage, shiatsu atau reflexy. Akupuntur menggunakan media jarum sebagai pengganti pijatan pada titik-titik meridian yang ditusukan pada tubuh. Teknik pengobatan alternatif ini umumnya dipelajari oleh orang awas. Namun, Bambang Basuki (40) mampu menjadi terapis akupuntur meski memiliki keterbatasan pada penglihatannya.

Bambang mengenang awal mulai terjun menjadi terapis akupuntur. Ia menyampaikan, sebagai terapis shiatsu, dirinya banyak berkontak langsung dengan pasien dan sedikitnya mengetahui titik-titik meridian tubuh, lalu berfikir untuk mencobanya dengan media jarum. Ia juga mendapat saran dari pasien yang kebetulan seorang dokter ahli internis (penyakit dalam) untuk mempelajari dan mencoba akupuntur.

“Titik yang biasa ditekan, coba pakai jarum,” kenangnya.

Saran itu yang Bambang dengar dari dokter pelanggan shiatsu-nya. Pertama melakukan akupuntur hasil cukup memuaskan. Sejak itu baru mulai fokus belajar, dan tahun 2015– 2016 menggeluti profesi terapis akupuntur selain shiatsu.

Bambang banyak belajar secara otodidak, walau ada pembimbing hanya mengajarkan teknik menusuk, memegang jarum dan kedalaman jarum. Selebihnya, ia banyak sharing bersama teman-teman lain terkait akupuntur. Kesulitan yang dirasakannya adalah ketepatan menentukan titik, lebih banyak memegang ruas tulang, memegang meridiannya, menghitung agar didapat hasil yang benar-benar pas sesuai dengan sasaran yang dituju.

“Jadi lebih banyak menghabiskan waktu daripada mereka yang bisa melihat atau orang awas,” katanya.

Kesan takut dan ragu, pernah ada penolakan dari pasien pun sempat dialaminya, saat menhetahui akupuntur dilakukan oleh terapis difabel netra. Setelah menemukan pasien yang bersedia dan hasilnya positif, baru kepercayaan itu ia dapatkan. Cara lain untuk meyakinkan pasiennya, selain dengan membujuk juga memberikan edukasi tentang akupuntur dan praktik langsung dihadapan para pasien bagaimana cara dirinya menusukan jarum ke dalam tubuh.

“Reaksinya ada yang kaget, ada yang boleh, ada juga yang menolak mentah-mentah,” ucapnya.

Bambang sendiri belum tahu pasti berapa banyak terapis akupuntur difabel netra, khususnya di Kota Bandung. Yang ia kenal ada sekitar empat atau lima orang saja. Dalam akupuntur yang menjadi patokan bukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk terapinya, melainkan ketepatan dan benar tidaknya cara yang digunakan dengan metode jarum itu.

Sebagai patokan umum, Bambang menggunakan teori jarum yang tertaman pada tubuh pasien tidak boleh lebih dari satu jam, sebab menurutnya ada iritasi antara jarum yang terbuat dari logam dengan tubuh. Caranya pun beragam, ada yang hanya ditusukan, diputar sedikit, langsung dicabut. Ada juga yang harus di diamkan, diputar sekitar lima, lima belas, hingga empat puluh menit.

Terapis netra yang sudah punya dasar shiatsu dan tahu titik-titik meridian, mungkin tidak terlalu lama untuk belajar menusukan jarum ke titik meridiannya. Akan tetapi, untuk dapat mendeteksi atau ahli dalam penyakit tertentu mungkin lama. Penghasilan sebelum pandemi ada sekitar tiga atau empat orang yang khusus akupuntur, setelah pandemi belum mengakupuntur orang lagi.

“Kalau untuk penyegaran dan pemulihan tubuh satu semester cukup untuk belajar akupuntur,” terangnya.

Akupuntur untuk difabel netra dapat dikatakan memang masih baru, harapan untuk mengembangkan metode ini hingga bisa dikuasai difabel netra dan ada peningkatan dari yang dulunya massage, lalu shiatsu, reflexy dan kini akupuntur, secara pribadi dimiliki Bambang. Ia juga berharap pada pemerintah untuk memfasilitasi difabel netra mendapatkan sekolah resmi akupuntur, selain massage, shiatsu, reflexy.

“Karena sangat memungkinkan akupuntur dikuasi oleh difabel netra,” pungkasnya.