Badan Antariksa Eropa Merekrut Difabel Menjadi Astronaut

0
589

Penulis: Barr

Newsdifabel.com – Rupanya persaingan antar Negara dalam peluncuran satelit luar angkasa semakin terbuka. Dari tanah hingga antariksa, Negara di planet Bumi berlomba-lomba mengirimkan astronautnya untuk kepentingan banyak hal, telekomunikasi, pengintaian satelit, wisata, atau penelitian.

Penjelajahan ruang angkasa oleh makhluk Bumi telah mencapai planet Mars. Persaingan ketat dipertontonkan oleh China dan Amerika, tak hanya dalam perdagangan, persaingannya hingga ke angkasa. Misi China ke Mars dinamai Tianwen-1, menggunakan roket perdorong bernama Long March 5.  Peluncurannya dilakukan di Pulau Hainan pada 23 Juli 2020 lalu, diperkirakan setelah melalui 7 bulan perjalanan dengan jarak tempuh 55 juta kilometer, Tianwen-1 akan tiba di Mars. Sedangkan, Amerika juga menuju ke Mars sejak diluncurkan pada 30 Juli 2020. Selain dua Negara itu, Uni Emirat Arab ternyata lebih dulu tiba di Planet Merah itu karena telah mengangkasa sejak 20 Juli 2020. Diperkirakan, di atas sana, pada bulan Februari dan Maret ini, akan ada tiga pesawat yang mengitari Mars.

Sudah banyak astronaut yang pergi sejauh ratusan ribu bahkan jutaan kilometer dari Bumi sejak tahun 1961 yang membuat Yuri Gagarin mengorbit di Bulan.

Tapi, sepanjang sejarah antariksa, baru kali ini muncul rencana mengirim astronaut difabel ke antariksa. Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) yang ingin memulainya. Mereka akan merekruit astronaut difabel dengan membuka empat hingga enam orang. ESA menginginkan agar proyek ini bisa seinklusif mungkin. Bahkan ESA juga bekerjasama dengan Komite Paralimpiade Internasional untuk memberikan masukan dan nasihat tentang program pemilihannya.

Mereka yang terpilih tentu dengan seleksi ketat, dan akan dilanjutkan dengan melakukan beberapa kali tes dan memahami tentang materi dalam operasi di International Space Station.

Individu yang terpilih akan masuk ke tahap berikutnya yaitu uji kelayakan, edukasi keselamatan, dan dukungan teknis yang disyaratkan secara ketat. Tujuan agar perjalanan antariksa menjadi aksesibel akan menjadi kenyataan.

Di Amerika sebenarnya juga ada perusahaan kedirgantaraan SpaceX yang memiliki program komersil dengan menjual kursi untuk ikut ke luar angkasa. Jika pendaftar terpilih lolos seleksi, maka ESA yang akan melatih kandidat terpilih.

Tentu itu terjadi jauh dari Indonesia, ribuan mil jaraknya. Di negeri mereka, telah sanggup memikirkan hal-hal yang jauh lebih maju, inklusif, dan membuka aksesibilitas. Sementara, kita masih bergelut dengan trotoar rusak dan infrastruktur yang belum aksesibel.