Ayo Berkawan dengan Difabel

0
185

Penulis: Zaenal 

Newsdifabel.com — Bagaimana rasanya berteman dengan difabel? Itu menjadi pertanyaan kita yang belum bisa beradaptasi dan menerima difabel selayaknya orang pada umumnya. Mungkin beberapa akan berpikir apakah ada cara tertentu baik perilaku, bahasa, komunikasi, atau cara tertentu saat bertemu dengan difabel.

Dikutip dari Instagram @maria_specialkids #30haribersuara, mengatakan bahwa mereka yang sudah terbiasa dan mengenal teman atau keluarganya sebagai difabel lebih banyak bersikap dan merespon positif. Contohnya seperti difabel down syndrom yang kebanyakan bersifat ramah dan murah senyum sehingga membuat orang di sekitarnya mendapatkan energi positif.

Untuk difabel tuli atau yang biasanya dipanggil teman tuli, menunjukkan identitasnya kepada masyarakat dengan menampilkan kedai kopi yang semua pekerjanya adalah teman tuli. Mereka memaksa masyarakat umum untuk berani mencoba dan bisa bergaul dengan memberikan guide atau petunjuk bagaimana menggunakan bahasa isyarat dalam pemesanan minuman di sana. Kalaupun tamu yang datang tidak mampu berbahasa isyarat mereka harus berucap sangat pelan sehingga teman tuli dapat membaca gerak bibir mereka. Ini adalah bentuk kerja keras teman tuli untuk bisa berinteraksi dan lebih dekat dengan masyarakat.

Bagi mereka yang sudah mengenal atau baru memperhatikan para difabel pasti akan menemukan sebuah kelebihan yang membuat mereka terkagum dan menyukainya. Ada yang pandai bernyanyi, memiliki sikap yang kocak dan periang sehingga memberikan aura positif di sekitarnya, memiliki ingatan yang kuat, membuat karya seni yang unik dan masih banyak kelebihan lainnya.

Cerita yang paling menarik dari Maria sebagai seorang psikiater adalah dimana ketika dia mendapat laporan dari seorang guru di sekolah inklusi. Dimana di sekolah itu mewajibkan 10% dari siswanya adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) atau difabel. Banyak orang tua murid di sana melapor kepada wali kelas, dikarenakan adanya murid difabel di dalamnya. Pada saat itu ABK yang dimaksud adalah difabel autis, kesulitan belajar (grahita) dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Para orang tua itu berkata kenapa anak saya disatukan dengan anak-anak seperti itu, bagaimana jika anak saya dipukul oleh mereka dan bagaimana kalau anak saya tertular seperti mereka.

Kurangnya sosialisasi dan informasi tentang anak-anak berkebutuhan khusus membuat pikiran-pikiran negatif muncul kepada setiap orang yang melihatnya. Maka dari itu pentingnya setiap orang untuk bisa menerima dan berteman dengan difabel sehingga bisa mengerti dan menghilangkan perbedaan yang sudah menjadi stigma di masyarakat.

“Menurut penelitian, sebuah kedifabelan bukanlah virus yang bisa menular kepada orang yang nondifabel”, jelas Maria. Justru faktanya banyak dampak positif terhadap anak-anak nondifabel yang berteman dengan anak berkebutuhan khusus. Contohnya dari segi kemampuan sosial yang meningkat, seperti dia menyesuaikan dengan lingkungan, bagaimana dia menyikapi perbedaan atau keberagaman teman di sekolahnya, menumbuhkan rasa simpati, empati, dan toleransi kepada orang lain.

Seorang anak yang berteman dengan difabel dari kecil membuat mereka terbiasa dan bisa menerima kondisi bahwa setiap anak dilahirkan memiliki perbedaan, baik fisik ataupun pemikiran. Di sinilah peran penting orang dewasa menjelaskan hal positif tentang difabel kepada anak-anak yang belum terkontaminasi dengan stigma negatif tentang difabel di masyarakat.

Pandangan anak-anak adalah netral sehingga jika mendapat pola pikir yang positif maka dia akan menjadi orang dewasa yang peduli terhadap sosialnya tapi sebaliknya jika pola pikir negatif yang diajarkan, maka dia akan menjadi orang yang selamanya memandang disabilitas sebelah mata.