Antara Mengubur Cita-Cita dan Meraih Mimpi (Bagian II)

0
297

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 26 Agustus 2019] Di Wyata Guna ternyata saya tahu bahwa kondisi yang seperti saya ini banyak, bahkan yang penglihatannya lebih baik dari saya pun banyak. Kondisi ini disebut low vision. Jadi, saya akhirnya paham bahwa ketunanetraan itu ada dua kategori yaitu yang totally blind, dimana dalam kondisi ini kedua matanya sudah tidak bisa melihat sama sekali, dan yang kedua adalah low vision dimana masih ada sisa penglihatan baik kedua matanya atau hanya sebelah. Dan rupanya saya termasuk kategori dengan ketunanetraan low vision.

Saya masuk di Wyata Guna pada tahun 2002. Di Wyata Guna ini saya diarahkan pada keterampilan pijat shiatsu yang pada saat itu masih merupakan jenis pijat baru di Indonesia.

Masih ada keraguan dalam diri saat menjalani pendidikan keterampilan shiatsu ini. Dalam hati, saya bertanya, benarkah saya harus jadi tukang pijat karena selama ini saya hidup sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi ternama harus menjalani profesi sebagai seorang pemijat tuna netra.

Pergolakan dalam hati antara percaya dan tidak percaya, antara mampu dan tidak mampu, perasaan malu dan minder terus menghinggapi diri. Tekanan-tekanan secara psikis inilah yang harus saya hadapi setiap hari, dan saya harus bisa mengatasi tekanan ini. Meskipun demikian, pergolakan batin itu tidak membuat berhenti di tengah jalan. Saya masih terus mengikuti pendidikan shiatsu meskipun perasaan ragu masih menghampiri diri.

Setelah setahun mengikuti pendidikan shiatsu, ternyata ada program pemagangan di klinik shiatsu Wyata Guna untuk memberikan jasa shiatsu kepada masyarakat. Di klinik inilah saya dibuat kaget dan pikiran mulai terbuka. Saya mengamati ternyata bisnis pijat ini tidak bisa dianggap remeh-temeh. Tiap hari saya melihat pasien keluar-masuk panti untuk dipijat.

Dari hasil ngobrol-ngobrol saya dengan beberapa pasien, saya mulai paham bahwa di perkotaan, perawatan tubuh sudah menjadi kebutuhan utama kaum perkotaan di tengah-tengah kehidupan perkotaan yang penuh hiruk pikuk dan tekanan sehingga membuat orang-orang kota mudah mengalami stress. Dan pijat merupakan salah satu cara untuk mengatasi stres tersebut.

Semenjak itu, saya melihat bahwa membuka usaha bisnis shiatsu adalah peluang besar bagi saya untuk mengembangkan diri. Apalagi shiatsu merupakan jenis pijat yang masih baru di Indonesia. Saya berkeyakinan jika saya bisa mempromosikan shiatsu ini dengan benar maka akan menjadi bisnis yang baik. Biasanya masyarakat memiliki rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu yang baru.

Saya pun melihat peluang usaha pijat ini sangat terbuka karena masih sedikit klinik pijat terutama tunanetra yang buka di Bandung dan sekitarnya. Apalagi pijat shiatsu yang nota bene masih baru di Indonesia tentu keberadaannya masih bisa dihitung dengan jari.

Saya pun kemudian memahami kenapa banyak panti yang buka namun tidak bisa bertahan lama. Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa hal ini disebabkan karena adanya salah manajerial dari pemilik panti. Saya melihat bahwa orang non difabel netra yang membuka panti terlalu bisnis oriented sehingga ketika panti sudah tidak bisa memberikan keuntungan dibanding usaha lain maka panti itu akan mudah ditutup.

Di samping itu, jika yang memiliki panti itu adalah orang awas terkadang mereka tidak menyadari bahwa bekerjasama dengan difabel netra tidak bisa disamakan dengan bekerjasama dengan orang awas. Banyak sisi psikologis yang harus dipahami dari seorang difabel netra. Keadaan ini adalah kelebihan bagi saya jika saya membuka panti. Saya sendiri merupakan bagian dari difabel netra sehingga saya yakin bisa lebih memahami rekan-rekan senasib yang saling bekerjasama. Saya semakin yakin untuk membuka klinik shiatsu selepas lulus dari Wyata Guna. Namun saya akan membuka klinik ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, melainkan ada orientasi sosial sebagai tanggung jawab saya agar bisa mengembangkan klinik untuk kesejahteraan difabel netra yang senasib dengan saya.

Pada tahun 2006, selepas lulus dari Wyata Guna, saya memberanikan diri untuk membuka klinik shiatsu sendiri dengan bermodalkan rumah oang tua yang disulap menjadi klinik shiatsu.

Saya pun bersyukur bisa mendapat kesempatan magang di klinik shiatsu Wyata Guna karena dengan kesempatan itu, saya bisa belajar bagaimana cara mengelola klinik dengan baik. Ketika di klinik shiatsu Wyata Guna, saya berprinsip pada ATM yaitu Amati, Tiru, Modifikasi. Jadi ketika saya membuka klinik sendiri saya tinggal mengamati kemudian meniru apa yang telah dilakukan di klinik shiatsu Wyata Guna, kemudian saya menyempurnakan dengan memodifikasi yang harus saya modifikasi untuk kebaikan klinik.

Akhirnya, klinik shiatsu yang saya dambakan benar-benar bisa saya buka dengan nama Paradise Shiatsu yang diambil dari nama belakang saya, Firdaus. Saya mulai mengenalkan bisnis saya ini kepada orang-orang terdekat saya, mulai dari keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang mengenal saya.

Saya tidak menyangka ternyata usaha ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Lambat laun, saya yang memulai usaha ini sendirian, makin hari pasien sudah tidak bisa saya tangani lagi sendiri. Seiring dengan bertambahnya pasien yang datang maka makin bertambah pula terapis shiatsu yang merupakan teman-teman saya di Wyata Guna. Sampai sekarang, alhamdulillah, teman-teman sesama difabel netra yang bekerjasama dengan saya sudah mencapai 10 orang.

Saya bersyukur bahwa usaha yang saya geluti ini bisa berkembang sehingga cit-cita saya untuk tidak tergantung kepada orang lain bisa terwujud. Bahkan dengan usaha ini saya bisa membantu teman-teman saya untuk berjuang bersama mencari nafkah untuk keluarganya masing-masing.

Saya sangat bersyukur sekali ternyata di balik kejadian yang kita anggap buruk ternyata ada rencana Allah yang lebih baik bagi kita. Saya berkhusnudzan kepada Allah Swt. bahwa yang saya lalui selama ini adalah yang terbaik bagi saya. Mungkin saja ketika Allah mengizinkan saya lulus di perguruan tinggi favorit itu, saya menjadi terlena dengan kelapangan yang saya peroleh bahkan mungkin bisa terjerumus ke dalam dosa yang besar.

Dan satu lagi hikmah yang saya dapatkan dari perjalanan hidup yang saya lalui bahwa kesuksesan itu tidak semata-mata berapa banyak harta yang kita peroleh dan betapa tinggi jabatan yang kita raih atau berapa gelar pendidikan yang telah kita capai. Karena jika kita bersandar hanya kepada dunia yang bersifat fana maka semuanya akan hilang dalam genggaman kita. Kesuksesan yang hakiki adalah dimana kita bisa memahami darimana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan berapa besar manfaat yang bisa deberikan untuk kepentingan orang banyak. Karena orang yang hartanya luas, kedudukannya tinggi, gelar pendidikannya berjubel jika tidak memahami siapa dirinya dan untuk apa tujuan hidupnya, tetap hidupnya akan hampa tidak tenang dan tak bahagia, bahkan hidupnya terus-menerus disibukkan oleh urusan dunia yang tiada henti-hentinya.

Terima kasih Ya Allah, Engkau maha baik. Jadikan saya termasuk orang-orang bersyukur atas segala nikmatMu. Amin.

Kembali ke Bagian I