Antara Mengubur Cita-Cita dan Meraih Mimpi (Bagian I)

0
257

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 14 Agustus 2019] Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk membantu seorang mahasiswi yang sedang melakukan penelitian di PSBN Wyata Guna dari Universitas Telkom. Penelitiannya dilakukan dengan maksud untuk memenuhi tugas skripsi dengan judul “Pengaruh Sukses Story telling terhadap Motivasi Kewirausahaan Bagi Penerima Manfaat PSBN Wyata Guna Bandung”. Namun setelah saya buat, sayang juga kalau tulisan ini hanya nongkrong di hard disk laptop saya. Akhirnya saya berniat untuk share kepada teman-teman semua dengan harapan mudah-mudahan dengan cerita saya ini bisa bermanfaat bagi diri saya dan bagi teman-teman semua yang membaca tulisan ini. Selamat membaca dan mohon maaf tulisannya agak panjang.

“Manusia hanya bisa berusaha, tetapi hanya Tuhanlah yang menentukan segalanya”. Itulah mungkin ungkapan yang harus disadari oleh semua orang termasuk diri saya. Tidak ada seseorang yang bisa menjamin bahwa dirinya akan menjadi apa yang dicita-citakannya sejak kecil.

Tidak ada sedikitpun niat dalam diri saya untuk menjadi seorang terapis dan pengusaha pijat shiatsu. Namun akhirnya saya menyadari bahwa memang hidup ini telah diatur oleh Yang Maha Kuasa dengan caranya sendiri.

Awal daari cerita saya sebenarnya sama dengan cerita hampir semua orang yang mempunyai anggapan bahwa kesuksesan itu bisa didapat dengan cara memiliki prestasi akademik yang baik sehingga nanti saya bisa kuliah di tempat yang baik dan nanti setelah lulus saya bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan jurusan yang saya geluti dengan gaji besar. Dengan pola pikir seperti inilah akhirnya saya dari semenjak SD sampai SMA selalu punya keinginan menjadi yang terbaik di kelas untuk urusan prestasi akademik. Alhamdulillah, dengan cara belajar yang rajin dan tekun, prestasi belajar saya di kelas dari SD sampai SMA selalu memuaskan dan selalu menjadi kebanggaan bagi keluarga.

Dengan modal prestasi belajar yang baik di sekolah, saya pun akhirnya mempunyai cita-cita masuk perguruan tinggi negeri yang bagus kualitasnya, bisa menyalurkan kesenangan saya pada mata pelajaran kimia dan matematika ketika di sekolah. Dan Allah mengabulkan cita-cita saya. Setelah lulus SMA, saya diterima di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung jurusan Teknik Kimia.

Betapa senangnya dan bersyukurnya saya bisa diterima di perguruan tinggi yang sangat saya dambakan. Karena dengan masuknya saya di perguruan tinggi tersebut, saya sudah dapat membayangkan bahwa karir saya akan cerah dan cemerlang.

Hari demi hari saya lalui dengan penuh optimis dan semangat ketika menempuh perkuliahan itu. Dalam hati, saya pun meyakini bahwa jalan yang saya tempuh untuk mencapai kehidupan yang sukses sudah berada di jalur tepat. Dan sudah terbayang bahwa saya akan menjadi seorang chemical engineer yang bekerja di perusahaan asing atau bekerja sebagai pekerja ahli di luar negeri.

Namun ternyata Allah tidak menghendaki hidup saya terlalu mulus dan segampang itu, pada saat-saat akhir perkuliahan di awal semester VII, pada saat saya kerja praktek di Surabaya, tiba-tiba saya mengalami muntah darah. Saya kaget, karena selama ini saya merasa kondisi badan saya sehat-sehat saja. Akhirnya saya dilarikan ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan saya. Setelah melalui beberapa pemeriksaan akhirnya diketahui bahwa saya mengidap TB paru.

Akhirnya, dengan berat hati saya tidak melanjutkan kerja praktek tersebut demi pengobatan penyakit yang saya derita. Pengobatan untuk penyakit TB paru ini cukup panjang bahkan selama 6 bulan saya harus terus-menerus minum obat. Namun saya melakukan pengobatan itu dengan cara berobat jalan, tidak dilakukan perawatan khusus di rumah sakit. Setelah sekitar 6 bulan akhirnya saya dinyatakan sehat dan telah bersih dari bakteri TB.

Setelah dinyatakan sehat, akhirnya saya gembira karena bisa melanjutkan lagi cita-cita untuk menyelesaikan bangku kuliah di kampus yang sangat saya idamkan. Perkuliahan pun akhirnya berjalan seperti biasa dari mata kuliah satu ke mata kuliah yang lain sambil mengejar mata kuliah sebelumnya yang belum sempat saya selesaikan karena sakit.

Ketika perkuliahan suda berjalan hampir 2 bulan setelah saya sakit, akhirnya kejadian yang mengubah hidup saya 180 derajat pun terjadi. Saat saya pulang dari kuliah saya merasakan kepala saya sakit sekali. Sesampainya di rumah, rasa sakit itu sudah tidak tertahankan lagi sampai akhirnya tak sadarkan diri. Kejadian selanjutnya, sudah tidak bisa mengingatnya kembali.

Ketika saya sadar, rupanya sudah berada di ruangan perawatan rumah sakit dengan kepala botak sebelah dan memakai perban di sebelah kanan kepala. Saya diberitahu oleh Ibu bahwa saya sudah dioperasi di bagian kepala karena mengalami radang selaput otak atau maningitis. Saya juga kaget ketika diberitahu bahwa saya sempat mengalami koma hampir 1 bulan.

Dari keterangan dokter diketahui bahwa ternyata bakteri TB paru yang sempat menyerang saya sebelumnya, belum bersih secara sempurna dari tubuh saya yang akhirnya menyebabkan peradangan di selaput otak.

Setelah perawatan di rumah sakit selesai, saya dibawa pulang ke rumah. Saya baru menyadari ternyata ada yang berbeda dari penglihatan saya. Mata kiri saya buram namun mata kanan saya masih jernih.

Saya masih bersyukur mata kanan saya masih normal. Dan saya berpikir dengan kondisi ini, saya masih bisa meneruskan kuliah yang tertunda. Namun, sesuatu yang saya takutkan terjadi. Setelah seminggu di rumah, ketika bangun tidur, saya kaget karena mata kanan saya yang sebelumnya normal sekarang sama sekali tidak dapat melihat. Saya hanya bisa melihat dengan mata kiri dalam kondisi buram.

Saya langsung deperiksa ke dokter mata dengan harapan bahwa kondisi yang saya alami ini hanya bersifat sementara. Namun harapan tinggal harapan karena dari pemeriksaan dokter ternyata syaraf mata saya telah rusak akibat adanya tekanan terhadap syaraf oleh peradangan di kepala. Dokter pun menyatakan bahwa kondisi kebutaan mata saya ini bersifat permanen.

Hancur hati saya mendengar hal itu. Langit seolah runtuh dan menimpa diri saya. Cita-cita yang sudah dirintis selama ini terancam hancur dalam sekejap mata.

Saya sedih, keluarga pun juga sedih karena saya adalah kebanggaan keluarga. Selama ini hanya saya lah yang mampu menembus perkuliahan di perguruan tinggi negeri ternama di antara seluruh keluarga besar saya. Namun semua itu harus hancur seketika. Dalam hati saya sering bertanya kepada Allah Swt, “Mengapa harus saya, Ya Allah”. Namun dalam keadaan terpuruk tersebut saya masih bersyukur memililki keluarga, teman SD, teman SMP, teman SMA, dan bahkan teman-temang kuliah yang terus membantu saya menghadapi situasi sulit dalam diri saya. Bahkan teman-teman saya itu terus memberikan bantuan baik secara moril dan materil, tanpa bantuan mereka mungkin saya akan cepat berputus asa dan tidak mampu untuk bertahan seperti sekarang ini.

Saya belum menyerah. Saya masih yakin bahwa saya akan sembuh. Ketika medis sudah angkat tangan, saya yakin ada pengobatan alternatif yang bisa membuat normal kembali mata saya. Akhirnya berbagai pengobaan alternatif saya coba. Ketika ada kerabat yang memberi informasi bahwa ada pengobatan alternatif di daerah tertentu, langsung saya bersama keluarga mendatanginya, sampai tak terasa saya sudah mendatangi berbagai tempat di berbagai daerah.

Saya memang sedih, namun saya paling tidak kuat ketika melihat ibu sangat sedih. Saya tahu ibu sedih karena melihat saya sedih dan memikirkan bagaimana nasib masa depan anaknya. Saya pun menyadari, tidak bisa terus larut dalam kesedihan. Saya sadar bahwa saya harus bisa mandiri karena tidak selamanya orang-orang yang kita sayangi akan terus bersama-sama kita.

Akhirnya saya sadar dan harus bisa menerima keadaan ini sambil menatap ke depan apa yang harus saya lakukan untuk masa depan saya. Saya pun yakin bahwa ketika kita mau berusaha pasti Allah akan menunjukkan jalan terbaik untuk kita.

Antara ragu dan yakin, takdir menunjukkan saya harus datang ke PSBN Wyata Guna Bandung, tempat para tunanetra dididik dan dilatih untuk dapat hidup mandiri. Sebenarnya saya masih tidak percaya bahwa saya adalah seorang tunanetra karena disebut buta, mata kiri saya mashih bisa melihat meskipun dengan tidak jelas.

Bersambung…