Anak Panah dan Filosofi Hidup

0
864

Oleh: Agus Maja 

[Bandung, 21 Oktober 2020] Tali busur ditarik mundur, mata menatap jauh di titik sasaran, busur digenggam dengan kuat, setelah jari membebaskan anak panah dari penat tegangan tali dan busur, melesatlah batang runcing menebas kosong udara hingga menancap pada papan sasaran. Setelah itu hanya ada dua kemungkinan, meleset atau tepat menancap. Begitulah hidup dan kehidupan kita lewati dengan mengendarai waktu: detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, musim, dan sekian purnama berikutnya.

Asep Suryadi adalah salah satu atlet cabor memanah, sekarang usianya 30 tahun. Kota yang mashur dengan jajanan dodol adalah tempat Asep bermula menatap dunia. Ya, Garut. Awal kariernya ditapaki sejak tahun 2008, namun bukan panahan, tetapi balap kursi roda dan sukses meraih medali emas, perak serta perunggu dalam kejuaraan Peparda 2010. Tak hanya balap kursi roda, ia pun merangkap sebagai atlet angkat besi daksa.

Saat ini, Asep berpindah cabor menjadi atlet panahan. Dengan suka cita Asep bertutur, “Saya tertarik dengan (menjadi—red) atlet memanah karena berbeda dengan cabor atletik. Jika memanah dibutuhkan kesabaran, fokus, dan ketenangan. Berbeda halnya cabor atletik yang membutuhkan kekuatan fisik.”

“Butuh waktu satu bulan untuk melenturkan otot dan melatih ketenangan serta fokusnya, jika koordinasi otot belum baik maka tidak diberikan dulu alat panahnya. Dan saya, kan, background-nya atlet angkat berat, jadi cukup lama untuk melenturkan koordinasi otot, kalau atlet renang justru lebih singkat sebab ototnya lentur-lentur”, Asep menerangkan dengan tenangnya.

Sarana prasarana NPCI Kota Bandung saat ini sudah cukup baik dan lengkap, tapi jika ada penambahan atlet baru kemungkinan harus ada penyesuaian alat. Kini Asep termasuk atlet Pelatda yang akan dipersiapkankan oleh provinsi untuk bertanding di kejuaraan Peparnas Papua.

Kepada Newsdifabel.com, Asep kembali bertutur, “Pada saat sebelum pandemi Covid-19, latihan dalam seminggu sebanyak enam kali namun sekarang sangat terbatas apalagi saingan berat dan latihannya pun berat karena mewakili provinsi, beda halnya jika mewakili tingkat kota”.

Setiap atlet tentu mempunyai harapan, begitu pun Asep. Dengan penuh harapan, Asep berkata, “Saat Peparnas di Papua nanti, saya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Provinsi Jawa Barat yang saya cintai. Minimal saya akan berjuang mendapatkan medali sesuai target. Harapan untuk pemerintah dan masyarakat, jangan membeda-bedakan atlet difabel dengan atlet umum, sebab atlet difabel pun sama-sama berjuang untuk provinsi.”

Sama seperti tiap cabang olahraga, panahan memiliki muatan padat filsosofi hidup. Untuk tetap bisa melaju di atas sepeda kehidupan, manusia harus terus bergerak mengayuhnya. Jika tujuan belum dilampaui, yang dibutuhkan adalah mengubah cara agar sampai, bukan mengubah tujuannya.

Memanah pun punya makna kontemplatif atau reflektif. Semakin jauh menarik tali busur ke belakang, anak panah semakin laju melaju, semakin kuat pula mendapati hambatan ketika merambat pada udara. Dengan bijaksana meneropong masa silam, kita semakin mampu bertindak tepat untuk masa deapn.

Meski tak hanya butuh kecepatan, fokus dan tenang untuk tujuan serta perpaduan otak dan otot mesti terjadi. Maka, hiduplah kita dengan penuh martabat. Dan Tuhan sudah tentu melihat ikhtiar manusia. Menyerahkan pada takdirNya adalah tugas terakhir kita.