Alexander Farrel, Difabel Netra dengan Nilai UN 100

0
255

Oleh: Agus Sampurna

[Bandung, 23 Mei 2019]Dilansir dari Kompas.com, Farrel adalah siswa difabel netra yang bersekolah di SMA N 3 Yogyakarta. Ia bersekolah di sana dengan model inklusi yakni seorang difabel bersekolah di tempat anak reguler.

Selain itu, sejak usia 5 tahun, Ananda Farrel kehilangan pengelihatannya dikarenakan penyakit kanker mata sebelah kiri, sampai kemudian kanker itu menjalar ke sebalah mata kanannya, sehingga ia harus kehilangan indera pengelihatannya.

Sosok Farrel tidaklah menjelma langsung menjadi anak berbakat, melainkan melalui proses panjang sehingga menghasilkan prestasi brilian dalam akademik. Sosok sang ibulah yg menjadi penyemangat hidupnya.

Di usia 7 tahun, Farrel sudah masuk dalam rekor muri yakni difabel netra termuda yang mampu menjalankan 14 aplikasi komputer. Tak berhenti di situ saja, Farrrel pun pernah menjadi juara pertama OSN (Olympiade Sains Nasional) MIPA. Ketika SMP pun ia menyabet juara OSN matematika, dan puncaknya ialah ia mendapatkan nilai UN matematika 100, mengungguli teman-teman reguler lainnya. Bahkan nilai pelajaran lainnya pun mempunyai kategori bagus seperti Bahasa Inggris (nilai 96), Sosiologi (nilai 90), yang terendah hanya Bahasa Indonesia (nilai 82).

Sebenarnya pada awal masuk SMAN 3 Yogyakarta, Farrel ingin memilih jurusan IPA namun apa daya, Farrel hanya bisa masuk ke jurusan IPS dikarenakan IPA sangat memerlukan pengelihatan karena banyak eksperimen.

Nilai UN matematika 100 yang diraih Farrel tentunya suatu hasil sempurna, namun untuk menobatkan Farrel sebagai peraih nilai UN tertinggi nasional perlu data akurat dari Kemendikbud karena sangat disayangkan jika Farrel tidak diberikan penghargaan oleh Kemendikbud.

Laki-laki yang gemar dan pandai bermain gitar ini telah diterima di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Ini adalah fakta dari seorang difabel netra yang harus diperhatikan oleh setiap pemangku kebijakan. Ini membuktikan bahwa kualitas otak tidak membedakan apakah dia difabel netra, tuli, daksa atau tidak. Farrel harusnya bisa jadi pelecut semangat bagi orang tua yang memiliki anak difabel. Anak dengan difabel bisa bersaing dengan yang non difabel, jangan dianggap beban. Bayangkan jika akses pengetahuan dan infrastruktur dibuat seinklusi mungkin, secara luas, dan konsisten oleh pemerintah.

Meski mata tidak bisa melihat tapi kaki masih bisa menggoncangkan dunia.

Sumber: Kompas.com