Menakar Aksesibilitas Pemilu Amerika 2020

0
1284

Penulis: Barr.

Newsdifabel.com — Politik adalah lokus terjadinya percampuran antara idealisme, pragmatisme, oportunisme. Seperti sup buah yang diaduk-aduk seribu kepentingan, lalu terlempar di ruang ragu. Sisanya, masih memiliki martabat. Meski segelintir.

Konon, pemilu adalah representasi dari gagasan demokrasi. Memilih segelintir orang untuk mengatur, memerintah, dan mengelola negara. Meski setelah terpilih, warga (pemilih) tak disediakan mekanisme untuk meritul jika pilihannya tak amanah.

Hampir semua negara yang berdiri di bumi menggunakan sistem pemilihan umum memilih pemimpinnya, kecuali negara bersistem monarki absolut. Beberapa hari ini televisi kita semarak oleh pemberitaan pelaksanaan pemilu presiden Amerika. Dilansir dari laman resmi Election Assistance Commission (EAC)—semacam lembaga bantuan untuk KPU-nya Amerika—lebih dari 38,3 juta orang difabel (seperenam dari total pemilih) memiliki hak untuk memberikan suara dalam pemilihan umum Amerika 2020. Demografis tersebut mencakup semua kategori difabel.

Para aktivis difabel dari Human Rights Watch terus memantau pelaksanaan pemilu. Negara pengguna hak veto terbanyak kedua itu memiliki Undang-Undang Penyandang Disabilitas Amerika (Americans with Disabilities Act—ADA) dan undang-undang lainnya yang memiliki semangat agar tempat pemungutan suara untuk pemilihan Amerika dapat diakses oleh semua pemilih, termasuk aksesibilitas fisik, aksesibilitas dalam komunikasi, dan melakukan modifikasi tertentu demi memudahkan kebutuhan difabel.

Wakil Direktur Human Rights Watch bagian Hak Difabel, Jane Buchanan mengungkap bahwa TPS-TPS juga diharuskan memiliki sistem aksesibel yang menjamin kerahasiaan suara dan independensinya. Tetapi, kata Jane Buchanan, di beberapa tempat pemungutan suara tidak memenuhi standar ini. Sebuah laporan di tempat pemungutan suara setelah pemilu 2016 lalu menemukan hampir 60 persen dari seluruh TPS tak aksesibel. Jumlahnya meningkat 73 persen dari 2008. Itu merupakan sebuah kegagalan jika dilihat bahwa undang-undang ADA sudah disahkan sejak 30 tahun lalu.

Panasnya kontestasi politik Amerika di tengah pandemi membuat difabel semakin rentan. Pandemi Covid-19 menghadirkan kesulitan baru. Selama pemilihan pendahuluan sebelum pemilu, petugas pemilihan mengurangi jumlah tempat pemungutan suara, mengharuskan orang melakukan perjalanan lebih jauh untuk menjangkau TPS, belum lagi persoalan terbatasnya transportasi umum. Antrean panjang dapat menghalangi pemungutan suara bagi mereka yang tidak dapat menunggu di luar ketika mengantre dalam waktu lama.

Baca: Jaminan Hak Suara Masyarakat Difabel di Pemilu 2020

Di pilpres kali ini, oleh salah satu media populer Amerika, Washington Post, dikatakan sebagai pilpres yang memiliki partisipasi terbesar. Lebih dari dua pertiga pemilih yang memenuhi syarat (hampir 159 juta) memberikan suara dalam Pilpres 2020, tertinggi sejak tahun 1900.

Voting secara daring telah meningkatkan partisipasi bagi difabel untuk terlibat sebagai pemilih. Seperti di negara bagian Virginia, misalkan, mengizinkan difabel netra atau dengan gangguan penglihatan untuk menggunakan surat suara elektronik dengan perangkat yang kompatibel dengan teknologi pembaca layar. Tapi surat suara masih perlu dicetak dan dikirim, itu menyulitkan bagi sebagian orang.

Berdasarkan penjelasan perempuan berpredikat summa cum laude itu, Jane Buchanan, di negara bagian tanpa opsi elektronik, menurut beberapa pemilih mungkin harus melepaskan hak untuk memberikan suara pribadi, atau tidak memberikan suara sama sekali jika mereka tidak dapat menulis dengan tangan atau menandatangani surat suara, atau tidak dapat dengan mudah membaca surat suara standar karena faktor penglihatan, intelektual, atau kondisi difabel lainnya.

Kini, Amerika memiliki presiden baru. Tentu harapan besar bagi seluruh warga difabel di Amerika adalah agar kebijakannya bisa semakin menjamin inklusifitas. Jika Pemilu masih menyisakan beberapa masalah tentang aksesibilitas, maka, menurut Jane, seluruh negara bagian harus berupaya maksimal hingga bisa dipastikan suara difabel didengar dan dihitung.