Aksi Sosialisasi Para Relawan Demokrasi Basis Pemilih Difabel

0
383

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 3 Maret 2019] Mengemban masa kerja selama tiga bulan menjadi mitra Komisi Pemilihan Umum (KPU), para difabel yang tergabung dalam tim Relawan Demokrasi untuk basis pemilih penyandang disabilitas terus bergerak memberikan pendidikan politik jelang pemilihan umum serentak, 17 April mendatang.

Setelah sebelumnya melakukan sosialisasi tentang pemilu di SLBN A Kota Bandung, pagi tadi Kamis, 28 Februari 2019, para Relawan Demokrasi ini kembali bergerak memberikan pemahaman terkait informasi pemilu unuk pemilihan presiden dan legislatif yang akan dilangsungkan secara nasional. Kali ini, tim Relawan Demokrasi basis pemilih difabel mengunjungi SLB YPAC D Kota Bandung.

Mendapat sambutan hangat secara langsung dari pihak kepala sekolah, Suherni, S. Pd., M. Pd menjelaskan, dari jumlah peserta didiknya secara keseluruhan diperkirakan sekitar 25% merupakan usia pemilih.

“Mereka yang sudah berusia 17 tahun dan masih di bawah 20 tahun, ada yang sudah pernah menggunakan hak suaranya pada pemilu gubernur silam. Sebagian lain, pemilu sekarang adalah yang pertama untuk mereka,” paparnya.

Dalam kesempatan langka tersebut, sosok pimpinan yang akrab disapa Erni ini juga memberikan peluang kepada para siswanya yang masih di bawah usia pemilih untuk ikut serta mendapatkan informasi seputar pemilihan umum dari tim Relawan Demokrasi.

Menurutnya, kunjungan tim sosialisasi pendidikan pemilu yang akan disampaikan oleh mitra KPU ini akan sangat memberikan manfaat terhadap seluruh peserta didiknya. Selain kepada para siswa, sosialisasi tersebut juga disaksikan oleh para orang tua murid serta para guru yang tengah bertugas.

Dalam aksinya, tim Relawan Demokrasi yang diwakili tunadaksa dan tunanetra, serta seorang mahasiswa ini memaparkan perihal waktu pelaksanaan pemilu yang akan berlangsung, ragam warna kertas suara, fungsinya, serta tata cara melakukan pencoblosan, dan menginformasikan nama-nama peserta pemilu bersama partai politiknya. “Sosialisasi terhadap basis pemilih difabel bertujuan untuk mengajak difabel yang telah memiliki hak suara dalam pemilu nanti agar dapat menggunakannya dengan maksimal, dan tidak golput,” ungkap Djumono selaku koordinator tim Relawan Demokrasi Kota Bandung basis pemilih penyandang disabilitas.

Senada dengan Djumono, Popon Latipah yang menjadi bagian dari tim Relawan Demokrasi pun memberikan pemahaman di hadapan para siswa, guru, dan orang tua murid tentang pentingnya ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari Rabu, 17 April mendatang kepada mereka yang berusia 17 tahun atau lebih.

Suara yang akan diberikan oleh para pemilih difabel di Kota Bandung sendiri menurut data KPU mencapai 3.186 jiwa. Artinya, akan ada sejumlah tersebut yang menjadi aspirasi pemilih difabel dari Kota Kembang ini. Bukan angka yang sedikit tentunya.

Dibentuknya tim Relawan Demokrasi basis penyandang disabilitas salah satunya untuk meminimalisir jumlah golput yang mungkin dilakukan pemilih difabel yang disebabkan minimnya akses informasi yang diperoleh mereka. Harapan dibentuknya Relawan Demokrasi adalah untuk berperan langsung secara aktif dalam pemilihan umum yang akan dilaksanakan serentak dalam memilih Presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kota/Kabupaten.

Diselingi berbagai pertanyaan dari para perwakilan siswa, guru, dan orang tua murid, keberadaan aksesibilitas TPS masih menjadi isu kuat yang dipertanyakan. Selain bagaimana cara mengenali para calon legislatif yang akan tertera pada lembar kertas suara dan foto para calon legistitif.

“Mengenai siapa saja caleg-caleg yang mengikuti pencalonan dalam pemilu, informasi tersebut menjadi ranah dari para peserta pemilu yaitu partai politik,” pungkas Djumono.