Ada Tadarus Puisi di Markas Newsdifabel.com

0
364

Oleh: Redaksi

[Bandung, 2 September 2019] Tuhan adalah pencipta keindahan terbaik semesta. Segala yang indah ada pada Tuhan. Manusia diberikan akal oleh Tuhan juga untuk menemukan keindahan-keindahan, salah satunya, bisa ditemukan dalam sastra puisi. Jika kita hayati, diksi-diksi Tuhan yang tertulis dalam kitab suci itu sangat puitis.

Kali ini, Newsdifabel.com akan membahas secuil tentang sastra puisi sebab, di ruang tempat nongkrongnya kru, kemarin (1/9) dijadikan tempat Tadarus Puisi yang dilaksanakan oleh Majelis Sastra Bandung. Majelis tersebut digawangi oleh sastrawan gaek Jawa Barat yaitu Kyai Matdon. Sastrawan berkumis itu membuka tadarus dengan menceritakan sedikit Majelis Sastra Bandung atau disingkat MSB.

Pada 25 Januari 2009, MSB dibentuk. Kami punya dua program yaitu Pengajian Sastra dan Tadarus Puisi.” ungkap Matdon di awal forum.

Di Tadarus Puisi kali ini, diikuti oleh dua belas orang yang datang dari berbagai latar belakang, guru SMP, jurnalis, dan pegawai. Hadir juga dari teman-teman difabel netra, termasuk Kang Hendar yang turut serta menyimak tadarus.

Menurutnya, “Acara majelis sastra yang dinahkodai Kang Matdon cukup bagus karena bisa mengasah kemampuan kita dalam mengolah rangkaian kata sehingga kita bisa menerapkan kalimat di dalam puisi secara universal.

Harapan baik juga datang dari Bayu. Difabel netra yang sedang menempuh pendidikan magister itu menyambut baik adanya Tadarus Puisi. “Saya berharap nanti bisa mengundang Kang Matdon untuk melatih puisi di SLB-SLB, kebetulan saya mengajar di sebuah SLB, dan beberapa kali pernah mengadakan lomba puisi.”

Pengharapan Bayu sama dengan Irfan. Menurut Irfan, “Acaranya bagus, kalau bisa, lebih diperbanyak acara-acara tentang seni puisi karena sekarang sudah jarang acara seperti itu setidaknya yang saya temui sebagai difabel.

Puisi memang bisa menjadi media untuk mengungkap hal-hal di kedalaman perasaan yang susah diungkap dengan cerita. Jika kesulitan mendapatkan tempat berbagi, maka puisi bisa menampung segala kesedihan, atau ekspresi lain dari sukma kita.

Sebagaimana diskursus yang dilempar Matdon dalam Tadarus Puisi bahwa segala yang kita alami bisa jadi puisi. Karena sejatinya, tiap peristiwa personal bisa dimaknai sebagai pengalaman puitis. Meski demikian, kata Matdon, “Semua orang bisa menulis puisi, tapi tidak semua yang menulis puisi itu penyair.”

Kepenyairan seseorang memang tidak datang dari pengakuan diri sendiri namun itu adalah pemberian dari masyarakat. Sehingga tidak bisa seseorang meminta legitimasi menjadi penyair karena legitimasi itu datang dari luar dirinya.

Semoga dengan adanya Tadarus Puisi ini, kita bisa mencipta kata-kata dari pengalaman puitis sehari-hari.