Di Era Digital, Masih Pentingkah Huruf Braille?

0
544
Drs. Agus Diono, M. Si (kiri) dan Dra. Anne Dealova, M.M (kanan) sebagai host.

Penulis: Delia 

Newsdifabel.com — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 4 Januari sebagai peringatan Hari Braille Sedunia. Dalam rangka memperingati hari braille sedunia, Yayasan Louis Braille Indonesia mengadakan webinar mengangkat tema “Masih Pentingkah Huruf Braille bagi Disabilitas Netra di Era Digital Saat Ini?

Yayasan yang berdiri sejak tahun 2006 ini tidak akan tidur manis terbuai oleh suasana orang-orang yang harus dirumahkan Covid 19. Selama pandemi, gejolak semangat yayasan semakin memanas karena melihat masih banyak ketimpangan terjadi terhadap difabel netra, ditambah lagi banyaknya kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara luring serta harus memutar otak memikirkan bagaimana caranya program yang sudah dicanangkan bisa berjalan. Salah satu program daring yang berjalan saat ini adalah kegiatan rutin harian via WhatsApp dengan membuat grup bernama Louis Braille Indonesia 2020.

Grup WhatsApp ini dilahirkan pada 7 April 2020. Kegiatan harian dimulai dari hari Senin dengan program informasi teknologi baik untuk android maupun komputer. Hari Selasa disambung dengan program bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Rabu dengan program kewirausahaan, dilanjutkan Kamis membahas problem dan solusi yang dihadapi difabel netra. Hari Jumat akan ada siraman rohani Islam, sedangkan hari Sabtu program bina bakat seni dan budaya. Hari Minggu dengan program ruang kesehatan keluarga dan sore harinya diisi dengan siraman rohani Nasrani. Kegiatan yayasan ini bisa dibilang cukup intens bahkan mengalahkan absensi karyawan kantor yang libur di hari Sabtu dan Minggu.

Isep Seprian dari BLBI Abiyoso sedang menyampaikan gagasan seputar huruf braille.

Grup ini seperti cahaya matahari yang bersinar dari timur ke barat, menyinari tanpa pikir apapun dan siapapun karena mampu menyatukan suku, agama, budaya bahkan negara. Dilihat dari peserta grup merupakan difabel netra dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua bahkan dari luar negeri contohnya Malaysia juga turut serta dalam grup WhatsApp ini.

Di sini pula kita bisa mengenal variasi profesi dan komunitas dari difabel netra di antaranya adalah gabungan dari Komunitas Penjual Kerupuk (KPK), Komunitas Pemusik Jalanan (KPJ), terapis, sekolah formal dan lain-lain. Selain program secara daring tersebut, yayasan ini juga aktif dalam kegiatan luring seperti bakti sosial memberikan beasiswa dan menyalurkan bantuan baik sembako, tongkat ataupun donasi kepada difabel netra yang membutuhkan dari seluruh Indonesia.

Ada yang bilang, garis tangan akan menunjukkan masa depan, bahkan rezeki dan jodoh tak akan tertukar. Sama seperti huruf braille yang sudah menjadi identitas seorang difabel netra. Jika huruf abjad adalah tulisan tangan masyarakat umum, maka tulisan tangan difabel netra adalah huruf braille.

Baca:

Webinar yang dilaksanakan pada 4 Januari 2020 melalui aplikasi Zoom ini turut menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten untuk membahas huruf braille di Indonesia. Ada 7 narasumber yang hadir yaitu Dr. Ir. R. Harry Hikmat, M.Si selaku Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, Dr. Ridwan Effendi S.S. M.Ag seorang pakar bahasa Arab yang juga dosen bahasa Arab UIN SGD Bandung, Dr. V. L. Mimi Mariani Lusli, M.Si, M.A sebagai Direktur Mimi Institut, Drs. Isep Sepriyan, M.Si sebagai Kepala Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso Cimahi, Bandung, Dimas Prasetyo M, S.Hum dari Peneliti Ahli Pratama Badan Litbang Kemendikbud, Drs. Agus Diono, M.Si sebagai Direktur Yayasan Louis Braille Indonesia dan Dra. Anne Dealova, M.M sebagai Founder Indonesia Louis Braille Foundation.

Mungkin terlalu naif untuk seorang difabel netra yang tidak mengakui lebih senang mendengarkan informasi dari audio dibandingkan membaca menggunakan huruf braille. Hal inilah yang menjadikan seorang difabel netra sering melakukan salah tik atau tipo dalam menulis kembali sebuah kata atau membuat karya sastra terutama menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Berbeda dengan bahasa kalbu, mungkin difabel netra lebih peka. Membaca buku cetak atau alkitab dalam huruf braille akan membuat seorang difabel netra lebih paham dalam penulisan maupun penggunaan huruf serta tanda baca yang baik dan benar. Selain itu, kemampuan saraf motorik pada tangan akan semakin berkembang terutama mereka yang belajar braille dari kecil.

Drs. Agus Diono, M. Si (kiri) dan Dra. Anne Dealova, M.M (kanan) sebagai host.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan huruf braille dan audio ini harus seimbang dan sesuai kebutuhan. Karena ada beberapa kasus dimana seseorang yang memiliki penyakit dimana indera peraba di tangan sudah tidak peka terhadap huruf braille, sehingga membuatnya lebih nyaman mengolah informasi melalui audio. Ada pula beberapa orang yang lebih cepat menangkap informasi melalui audio pun sebaliknya.

Adanya kesalahan, baik kurang atau bertambahnya salah satu titik huruf juga titik yang hilang dan terlalu kecil sehingga sulit dibaca, menjadi pusat diskusi dari peserta webinar kepada narasumber yang salah satunya adalah Badan Percetakan Nasional Braille yang kini menjadi Balai Literasi Braille Indonesia.

Beberapa solusi yang dilontarkan oleh narasumber cukup memukau dan menarik perhatian peserta webinar agar huruf braille ini tetap lestari dan tetap menjadi identitas penting bagi difabel netra. Ada usulan untuk menyetarakan huruf braille dengan huruf alfabet, seperti yang tertera pada kemasan produk, sertifikat tanah, papan informasi fasilitas publik seperti keterangan sebuah ruang, mesin ATM, kartu identitas, dan masih banyak lagi lainnya. Dengan adanya huruf braille di mana-mana mampu membuat difabel netra bisa terus membaca dan masyarakat pun akan tersosialisasi secara perlahan.

Drs. Agus Diono, M. Si, ketua yayasan yang baru pensiun dari Kementerian Sosial ini berhasil kami hubungi melalui panggilan seluler di kediamannya di Kota Bekasi. Menurut Agus (65) yang juga ketua panitia kegiatan mengatakan bahwa “Kami menyiapkan kegiatan ini cukup singkat, hanya sekitar satu minggu saja, tapi alhamdulillah meskipun ada sedikit masalah teknis tetap bisa berjalan lancar.”

Baca: 

Banyak peserta yang tidak dapat mengikuti webinar, jumlah peserta yang mendaftar 413 orang namun yang berhasil masuk hanya sekitar 256 orang saja. Meskipun adanya kendala-kendala tersebut tidak membuat kelancaran kegiatan berkurang, justru akan menjadi pengalaman untuk bisa meningkatkan kegiatan secara daring berikutnya.

Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi rekomendasi dan referensi untuk lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan percetakan dan pendidikan sehingga huruf braille tidak ditinggalkan, dan mampu mendorong lembaga-lembaga tersebut untuk berperan aktif memberikan pengajaran huruf braille kepada difabel netra sejak usia dini.