Kyai Matdon: Karena Opik itu Semacam Tenaga dan Energi dari Difabel

0
728

Penulis: Annas

Newsdifabel.comApresiasi adalah sesuatu yang menakjubkan, ia membuat kesempurnaan orang lain seperti milik kita juga, kata Voltaire, pemilik 175 nama pena, pembela HAM, dan filsuf besar Prancis yang mengagumi Nabi Muhammad.

Mengapresiasi karya adalah proses kerja penilaian dan penghargaan pada karya atau pembuat karya. Termasuk kritik. Karena kritik salah satu bentuk dari apresiasi selain apresiasi empatik dan estetis.

Masih ingat dengan buku puisi Lukisan Dunia karya seorang cerebral palsy bernama Taufik Hidayat atau Opik? Setelah peluncuran buku ketiga itu, respon baik datang dari Kyai Matdon, seorang pegiat sastra, penyair, penulis, dan jurnalis.

Kyai Matdon menemukan inisiatif membuat apresiasi puisi dengan mengajak kawan-kawannya membaca puisi karya Taufik Hidayat dan mendokumentasikan dalam video untuk diunggah di YouTube Channel Majelis Sastra Bandung.

Adanya warta pemberian apresiasi pada karya difabel membuat Newsdifabel.com meluncur secara virtual menuju Kyai Matdon. Berselang dua jam setelah datangnya pertanyaan “Kenapa Taufik Hidayat dan karyanya diapresiasi?“, sang penulis buku puisi Kepada Penyair Anjing itu menjawab:

“Karena Opik semacam tenaga, semacam energi dari kawan-kawan difabel, untuk memberikan semangat bahwa ‘kekurangan’ yang dimiliki oleh dia bukan alasan untuk malas, dia tetap nulis, dia tetap konsisten dengan apa yang dia jalankan selama ini sehingga lahir dari tangannya 3 buku.”

Bisa terbaca oleh kita bahwa alasan Kyai Matdon mengapresiasi adalah menangkap sebuah optimisme, semangat menjalani hidup, dan memproduksi karya. Lalu, penyair yang masih produktif menulis di koran cetak dan daring itu meneruskan penjelasannya:

“Saya pikir, membaca karya-karya Opik adalah membaca tentang kehidupan, membaca tentang apapun yang ada di Indonesia, apa yang dialami oleh manusia pada umumnya, apa yang dialami Opik pada khususnya, yang (harus) menjadi gambaran, pienteungeun (sunda: menjadi cermin) bahwa kita harus tetap semangat.”

Taufik Hidayat dan Kyai Matdon

Baca: Tubuhnya Berkisah tentang Getir dan Keindahan

Di akhir penjelasan yang diungkap Kyai Matdon, tak lengkap jika tak mendatangi Taufik Hidayat untuk mengetahui bagaimana respon atas hadirnya apresiasi dari pegiat sastra dan penyair terkenal itu.

Pertanyaan sederhana untuk Taufik Hidayat dalam sebuah perjumpaan non virtual langsung dijawabnya, tentu melalui teks tertulis di layar telepon seluler:

“Itu adalah bentuk apresiasi seorang Kyai Matdon terhadap karya-karya sastra yang saya buat dan saya dalami. Itu adalah bentuk kepedulian pada karya sastra. Saya merasa terharu dan bangga.”

Tentu ekspresi gembira hadir di wajah Taufik Hidayat yang saat itu duduk di kursi, di sebuah rumah tempat bukunya diterbitkan.

“Terima kasih untuk apresiasinya, baik pada buku Isi Otakku, Ruang Sunyi, atau Lukisan Dunia. Dari tiga buku itu, Kyai Matdon mengisi kata pengantar. Sekali lagi terima kasih banyak, Kang Kyai Matdon, sobatku. Terima kasih juga untuk teman-teman yang sudah mengapresiasi dan membacakan puisiku.”

Taufik Hidayat mengakhiri jawabannya dengan menghaturkan terima kasih pada Kyai Matdon, pada para pembaca, dan pada siapapun yang telah memberikan apresiasi pada karyanya.

Simak pembacaan puisi karya Taufik Hidayat di YouTube Channel Majelis Sastra Bandung.